INDRAMAYU, SIGNALNEWS — Upaya menjaga ketersediaan air bagi sektor pertanian di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, diperkuat melalui pembangunan 53 jaringan irigasi air tanah (JIAT). Infrastruktur yang dibangun sepanjang 2025 tersebut diproyeksikan dapat menunjang pengairan lahan pertanian dengan luas potensial mencapai 1.307,94 hektare.
Pembangunan yang dilaksanakan Kementerian Pekerjaan Umum (PU) ini menjadi salah satu upaya untuk membantu petani menghadapi keterbatasan pasokan air, khususnya ketika musim kemarau menyebabkan ketersediaan air dari sumber permukaan berkurang.
Secara keseluruhan, jaringan irigasi yang dibangun memiliki panjang mencapai 61,59 kilometer. Infrastruktur tersebut diharapkan dapat memperkuat dukungan pengairan bagi lahan pertanian di salah satu wilayah penghasil pangan penting di Jawa Barat.
Puluhan Jaringan Dibangun Melalui Dua Program
Dari total 53 jaringan irigasi air tanah di Indramayu, sebanyak 26 unit dibangun melalui program reguler. Jaringan dalam kelompok ini memiliki panjang gabungan 23,74 kilometer dan potensi cakupan pengairan mencapai 523,69 hektare.
Adapun 27 unit lainnya direalisasikan melalui program Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 2 Tahun 2025. Infrastruktur yang berasal dari program tersebut memiliki panjang keseluruhan 37,85 kilometer dengan potensi layanan untuk lahan pertanian seluas 784,25 hektare.
Jika digabungkan, kedua program itu menghasilkan jaringan sepanjang 61,59 kilometer dengan potensi layanan pengairan mencapai 1.307,94 hektare.
Angka tersebut menunjukkan cakupan potensial infrastruktur yang dibangun. Luas lahan yang benar-benar memperoleh manfaat tetap bergantung pada kesiapan jaringan, ketersediaan air tanah, kondisi pompa, serta pengelolaan distribusi air di lapangan.
Kementerian PU Tekankan Penggunaan Air Secara Efisien
Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo menekankan bahwa pembangunan sarana irigasi perlu disertai pengelolaan air yang tepat. Ketersediaan infrastruktur, menurut keterangannya, perlu diimbangi dengan penggunaan air secara hemat agar manfaatnya dapat dirasakan oleh para petani.
Selain itu, percepatan pembangunan jaringan irigasi tersier dinilai penting untuk mendukung penyaluran air hingga ke petak-petak sawah. Distribusi yang tertata diharapkan dapat mengurangi kehilangan air selama penyaluran dan membantu menjangkau lahan secara lebih efektif.
Jaringan tersier merupakan bagian dari sistem irigasi yang menyalurkan air menuju area pelayanan pertanian. Karena itu, keterhubungan antara sumber air dan jaringan distribusi menjadi salah satu faktor penting dalam pemanfaatan infrastruktur irigasi.
Irigasi Air Tanah Diharapkan Membantu Petani Saat Kemarau
Bagi sektor pertanian Indramayu, ketersediaan air menjadi salah satu faktor penentu keberlangsungan kegiatan budidaya. Ketika pasokan dari sungai atau saluran irigasi berkurang, sumber air alternatif dapat membantu memenuhi kebutuhan pengairan, sepanjang kondisi sumber air dan sarana pendukung memungkinkan.
Pembangunan JIAT diharapkan memperkuat pilihan sumber air bagi lahan pertanian yang membutuhkan dukungan pengairan. Meski demikian, pemanfaatannya perlu memperhatikan kondisi air tanah agar pengambilan air tetap terkendali dan berkelanjutan.
Ke depan, efektivitas jaringan tidak hanya ditentukan oleh jumlah dan panjang saluran yang tersedia. Pemeliharaan fasilitas, kesiapan operasional, serta pengaturan pembagian air juga diperlukan agar infrastruktur tersebut dapat memberikan manfaat sesuai potensi layanan yang direncanakan.











