Signalnews,- Maraknya produksi film dan serial yang mengambil lokasi syuting di Kabupaten Indramayu dinilai memberikan sejumlah keuntungan bagi daerah, mulai dari menggerakkan ekonomi lokal hingga menjadi sarana promosi Indramayu secara gratis.
Bupati Indramayu Lucky Hakim mengatakan, kehadiran rumah produksi dan kru film dari luar daerah memberikan dampak langsung bagi masyarakat. Selama proses produksi, kru membutuhkan berbagai kebutuhan, mulai dari konsumsi, tempat hingga jasa pendukung lainnya.
”Yang paling gampang adalah ketika orang dari luar datang ke Indramayu, walaupun dia tidak syuting pun, dia makan di Indramayu. Apalagi krunya banyak, makan,” kata Lucky saat menghadiri nonton bareng film vertikal Kflix bersama masyarakat di Taman Aspirasi, Sabtu (26/9/2026).
Menurutnya, kegiatan produksi juga membuka peluang ekonomi melalui penyewaan lokasi, katering, hingga keterlibatan masyarakat sebagai pemain maupun kru produksi.
Di sisi lain, Lucky menilai film yang mengambil lokasi di Indramayu juga menjadi media promosi daerah. Ketika film tersebut ditayangkan melalui platform streaming dan dapat disaksikan secara luas, berbagai identitas serta potensi Indramayu ikut terekspos kepada penonton.
”Ketika mereka menayangkan, dan itu tayangnya secara global, baik secara nasional maupun bahkan nanti bisa ditonton di luar negeri. Ada logo-logo Indramayu, jadi mengenalkan Indramayu ke skala nasional,” ujarnya.
Lucky menyebut promosi melalui produksi film tersebut menjadi keuntungan tersendiri bagi pemerintah daerah karena tidak membutuhkan anggaran promosi secara langsung.
“Kalau kita mengiklankan logo Indramayu di TV nasional satu detik atau sepuluh detik berapa juta. Kalau ini kan gratis. Jadi barter promo sebenarnya,” katanya.
Selain promosi dan dampak ekonomi, Lucky juga menyoroti besarnya peluang bagi talenta lokal. Dalam produksi film Cakra Wangsa yang akan ditayangkan di platform Kflix, hampir 90 persen pemerannya disebut merupakan warga Indramayu.
Kondisi tersebut, menurut Lucky, menunjukkan bahwa Indramayu tidak hanya dapat menjadi lokasi syuting, tetapi juga memiliki sumber daya manusia yang dapat terlibat langsung dalam industri kreatif.
Ia berharap produksi film ke depan tidak hanya menjadikan Indramayu sebagai latar lokasi, tetapi juga mengangkat berbagai potensi lokal, seperti Tarling, Ngarot, Tari Topeng, kuliner, serta kehidupan petani dan nelayan.
“Pariwisata tidak harus sama dengan alam yang indah. Ada juga wisata religi, budaya, dan kuliner,” tuturnya.
Dengan demikian, semakin banyak produksi film yang berlangsung di Indramayu diharapkan tidak hanya menghasilkan tontonan, tetapi juga memberikan efek ekonomi sekaligus memperkenalkan berbagai potensi daerah kepada masyarakat yang lebih luas.











